Read Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia by Lalu Abdul Fatah Dee An Online

love-journey-2-mengeja-seribu-wajah-indonesia

Love Journey#2 mengajak kita berkelana ke berbagai lokasi di Indonesia sambil menyadari bahwa setiap sosok manusia memiliki cerita. Gabungan gaya bahasa dan alur dari penulis yang beragam memberi warna lebih akan cerita perjalanan yang sering kali membuat kita menjadi puitis.[Marischka Prudence, travel blogger]Love Journey#2 membuka mata saya tentang cara baru menikmati buLove Journey#2 mengajak kita berkelana ke berbagai lokasi di Indonesia sambil menyadari bahwa setiap sosok manusia memiliki cerita. Gabungan gaya bahasa dan alur dari penulis yang beragam memberi warna lebih akan cerita perjalanan yang sering kali membuat kita menjadi puitis.[Marischka Prudence, travel blogger]Love Journey#2 membuka mata saya tentang cara baru menikmati bumi Indonesia, tak melulu tentang keindahan alam dan pariwisata yang memukau. Namun lebih dari itu, ada petualangan yang seru, pelajaran hidup penuh hikmah hingga realitas pahit negeri yang kita cintai ini.[Ihwan Hariyanto, owner Mozaik Indie Publisher]Beginilah kala perjalanan tak lagi sekadar upaya menguak pesona tempat yang dijelajahi. Ada sisi-sisi humanis yang ternyata tak kalah menawan, menggugah, dan amat menarik untuk diketahui. Membaca buku ini, membuat saya merasa dekat dengan manusia.[Azzura Dayana, backpacker]...

Title : Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia
Author :
Rating :
ISBN : 9786022554189
Format Type : Paperback
Number of Pages : 368 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia Reviews

  • Nabila Budayana
    2018-12-04 18:52

    Satu lagi kumpulan antologi kisah perjalanan. Sebagai pembaca awam, saya akan menuliskan review secara subjektif. Kemungkinan akan ada spoiler di sini. Jadi, selama anda berhati-hati, saya akan memulai perjalanan (me-review) Love Journey #2, Mengeja Seribu Wajah Indonesia. * Cerita nomor 1 datang dari Dinar Okti Satitah. "Menolak Lupa" diambil penulis sebagai judulnya. Layaknya buku-buku yang lain, kisah pertama adalah pertaruhan. Apakah mampu menarik pembaca untuk masuk lebih dalam ke sebuah buku, atau justru mundur menyerah dan menutup buku. Kisah ini tak disajikan secara kronologis. Namun justru dibagi dalam fragmen-fragmen pemikiran dan kritik sosial sehubungan dengan tokoh yang diangkat, Bung Karno. Di balik penggunaaan diksinya yang halus, sesungguhnya kisah ini 'berteriak dengan keras'. Penulis tidak mengimingi pembaca dengan keindahan alam suatu tempat, justru menggunakan konsep berbeda untuk menyampaikan pertanyaan. Pertanyaan pada dirinya sendiri, juga Bangsa Indonesia. Hingga akhir menutup buku ini, konsep penulisan Dinar yang berbeda masih membuat saya memfavoritkannya. Meski menurut saya, ada baiknya sosok sang tokoh diafirmasi pada pembaca.* Cerita nomor 2,"Orang Akit dan Orang Rimba" dari Huzer Apriansyah. Diksinya menarik, namun terasa kurang sentuhan personal penulis. Meski di paragraf awal sesungguhnya pembaca sudah seperti dijanjikan petualangan penulis.* Cerita nomor 3,"Orang-Orang Subaltern" dari Dina Y. Sulaeman. Fokus tulisan ini adalah tentang kehidupan orang-orang subaltern yang ditemui penulis selama perjalanan di kota Malang. Tulisan ini juga menyajikan pernik kutipan sejarah dan quote menarik. Porsinya seimbang antara bagian personal dan lingkungan. Dalam kepala saya terpikir, seandainya tulisan ini diakhiri di pasar yang diceritakan, mungkin akan lebih impresif.* Cerita nomor 4,"Dayung Sang Hudoq" oleh M. Saipul. Kisah ini memiliki keistimewaan pada tema, isi dan kedalaman. Namun cara penyampaiannya bisa lebih baik dalam eksplorasi. Mungkin akan lebih baik ketika adegan paling dramatis diletakkan di bagian depan untuk menarik pembaca. * Cerita nomor 5, Exotism of Madura : The Unpredictable Impressions oleh Bustomi Menggugat. Saya secara personal agak terganggu dengan penggunaan bahasa yang campur antara Bahasa Indonesia-Inggris. Mungkin akan tidak apa-apa ketika porsi dan penempatannya tepat. Juga, penulisan angka. Cerita penulis sesungguhnya memiliki kelebihan pada tema dan pengalaman. Ia berpotensi untuk menjadi kisah yang asyik ketika dua budaya dipertemukan. Karena akan ada prasangka,perbedaan cara pikir, budaya, dll. Seandainya penulis sedikit 'lebih dalam' lagi, mungkin sisi itu akan dapat terlihat.* Cerita nomor 6, Mengeja Cinta di Permukaan Batang Hari Sembilan oleh Dian Onasis. Kisah ini menyenangkan. Penyampaiannya pun ringan namun tetap mengena dengan benang merah "Sungai Musi" yang ditarik di antara bagian. Kisah ini sukses menarik pembaca hingga ke akhir kisah. Meski menyenangkan, kritik sosial tetap ada. Konsep penyajiannya mengingatkan saya pada kisah Dinar Okti di Love Jouney (#1).* Cerita nomor 7, Lasem, Saat Cinta Berlabuh Pada Setjarah oleh Farhan Noor Rachman. Satu kalimat yang saya sukai dari kisah ini : "Lasem terjebak dalam memori puluhan tahun lalu, seolah tak bergerak melaju mengikuti garis waktu." Pilihan destinasi pun menyumbang nilai plus pada kisah. Namun di bagian sejarah mampu dieksplorasi lebih untuk menghindari rasa bosan pada pembaca.* Cerita nomor 8, Gadis Polos dalam "Kotak Ajaib" oleh Dwi Ar. Kisah ini menarik untuk diikuti hingga akhir. Porsi kritik sosialnya sedikit, namun tersebar. Pun juga sederhana. Hanya saja, di bagian akhir kurang memiliki benang merah dengan perjalanan bus. Terkesan fokus cerita yang terpecah.* Cerita nomor 9, Mendapati Banyak Hikmah di Pulau Karas oleh Lina W Sasmita. Penyampaiannya yang berurutan sesuai timeline waktu membuat kisah ini kurang berbeda. Kritik sosialnya pun kurang mendalam. Datang sepintas, sebelum akhirnya usai.* Cerita nomor 10, Perempuan Pembuat Saka oleh Meinilwita Yulia. Kisah ini memiliki akhir yang menarik karena adanya kejutan di sana. Penulis bercerita tentang perjalanannya ke masa lampau, ke profil seorang perempuan pembuat gula saka. Perpindahan dari perjalanan penulis ke perjalanan sang perempuan terasa mulus, sehingga pembaca tak merasa sedang digiring ke sebuah kejutan.* Cerita nomor 11, Hell in Paradise oleh Helene Koloway. Kisah ini jelas berteriak tentang rusaknya alam. Penulis menunjukkan kepedulian dengan menyampaikan kritik sosialnya, ketika ia merasa belum mampu melakukan sesuatu yang lebih besar. Ada amarah dan penyesalan yang membuat cerita ini hidup. Namun, di halaman 159 terasa janggal. Apakah kisah ini sudah berakhir begitu, atau justru ada akhir yang tak tercetak?* Cerita nomor 12, Di Balik Pesona Topeng Haumeni Ana oleh Feni Kurniati. Penulis tak menonjolkan cara penyampaian yang muluk. Ia menyajikan kepolosan pada gaya bertutur dan kedalaman memandang lingkungan. Ada kebingungan-kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan penulis di dalamnya. Tulisan ini terasa masih seperti prolog. Mungkin ending-nya akan ditemukan ketika penulis kembali ke tempat, 5 tahun kemudian, seperti janjinya di dalam tulisan.* Cerita nomor 13, Kabar dari Sebatik oleh Arabia. Dalam menuliskan kisah ini, penulis memiliki tantangan tersendiri. Bagaimana mengupas Sebatik yang cukup jamak dibicarakan, agar tetap menarik dengan sudut pandang baru. Seandainya penulis lebih dalam mengungkapnya, kisah ini akan menarik.* Cerita nomor 14, Warna-Warni Ternate oleh Prita Kusumaningsih. Kisah ini memiliki porsi personal yang lebih banyak dibanding kisah-kisah sebelumnya. Tantangan kisah ini adalah bagaimana kisah itu tetap dapat dinikmati pembaca tanpa merasa bosan. Seandainya ada penceritaan tentang lingkungan dan kritik sosial yang lebih banyak.* Cerita nomor 15, Anak Penjual Tebu di Lembah Harau oleh Katerina. Menarik karena sederhana. Namun akan lebih baik jika penulis menulis dengan lebih detail, sehingga mampu menimbulkan greget pada pembaca.* Cerita nomor 16, Di Balik Warna-Warni Batik Pekalongan oleh Arini Tathagati. Berkisah tentang Batik Pekalongan secara garis besar. Perjalanan penulis adalah perjalanan dalam mengenal Batik Pekalongan lebih dalam. Penyampaiannya tak muluk. Namun kurang 'bersuara'.* Cerita nomor 17, Terlalu Turis Bikin Meringis oleh Lomar Dasika. Menarik. Ringan. Namun mampu mengajak pembaca terus tertahan hingga halaman akhirnya. Perjalanan yang sederhana menjadi seru karena imajinasi penulisnya. Pesannya pun gamblang dan mudah ditangkap. Sederhana, tapi mengena.* Cerita nomor 18, Lupa Rinca oleh Eaz Eryanda. Menyenangkan. Namun sesungguhnya Rinca bisa lebih diolah lebih menarik. Misalkan, teriakan tokoh bapak tentang komodo lebih ditunjukkan.* Cerita nomor 19, Rampai Kehidupan di Kaki Merapi oleh Manik Priandani. Menyentuh. Cerita ini beruntung memiliki Pak Sari di dalamnya. Di tokoh tersebut cerita menumpukan kakinya. Inspirasi dan sentuhan ada di tokoh tersebut pula. Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan lebih tersirat.* Cerita nomor 20, Lindungan Impian oleh Viola Malta Ramadhani. Berbeda dari yang lain. Ketika penulis lain berbicara tentang perjalanan secara harfiah, penulis memilih mengesampingkan pengalaman perjalanannya, justru menjelajah pada ranah psikologis dan arsitektur. Afirmasi tentang mengeja 1000 wajah Indonesia di akhir sayangnya, justru membuat saya berpikir bahwa penulis tak begitu yakin dengan tulisannya.* Cerita nomor 21, Tobelo, Belajar dari Tragedi oleh Ary Amhir. Cara penyampaian Ary Amhir selalu membuat nyaman. Mengalir dan berhasil menjadi pembalik halaman. Penulis tak serta merta menaruh semua data di depan. Gantinya, adegan yang menarik dijadikan pembuka. Ampuh membiarkan pembaca untuk terus menelusuri kisah. Mengikat dan menarik dengan temanya tentang tragedi. Referensinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan lokasi pun mendukung.* Cerita nomor 22, Putri dari Pulau Akar oleh Dee An. Terasa agak kurang detail dan kurang dalam. Seandainya sisi yang berbeda dari pulau dan putri lebih ditunjukkan, tulisan ini akan lebih menarik. * Cerita nomor 23, Rumah Terberkahi di Sudut Wanayasa oleh Lalu Abdul Fatah. Meski terkesan serius, beberapa bagian di kisah ini mampu membuat saya tertawa. Penulis memperhatikan hal-hal kecil di sekitarnya, dan itu efektif untuk menghidupkan cerita. Last line-nya powerful. Kisah ini bergantung pada rumah dan keluarga ibu si pembuat batu bata. Proporsi kisah ini pun imbang. Ada berbagai rasa pula di dalamnya, lucu, sungguh-sungguh, haru juga renungan. Namun di akhir tulisan, ada baiknya 'pembelaan diri' penulis agak diredam.* Cerita nomor 24, Panggil Dia... Malaikat oleh Adis Takdos. Sudah pasti membuat tertawa. Lucu dan ringan. kelebihan penulis di buku ini adalah ia jauh berbeda dengan yang lain. Bukan karena lokasi tujuan, namun cara penyampaian yang apa adanya dan sudut pandang ala dirinya sendiri. Halaman-halaman cerita ke-24 ini full 'dimiliki' oleh penulis sebagai panggungnya sendiri. Kehadiran tulisan ini menjadi penyeimbang tulisan yang lain.* Cerita nomor 25, Krayan Hulu. Ditekan Malaysia, Dicuekin Indonesia oleh Dody Johanjaya. Saya merasa seperti membaca sebuah artikel di koran. Detail dan deskripsinya jelas baik. Namun itu menjadikan kedalaman kekurangan ruangnya. Karena saya hobi berandai-andai, lagi-lagi saya akan berandai-andai dengan buku ini. Seandainya kisah Adis Takdos diberikan pada bagian paling akhir, akan mampu menjadi kejutan. Selain berandai, saya juga bertanya. Mengapa dua nama penulis akhir tidak tercantum di antara daftar kontributor di sampul belakang? Atau ada kesalahan pada mata saya? Entah. Semua kisah di buku ini sesungguhnya memiliki satu benang merah yang sama. Indonesia, perjalanan, kritik sosial. Tiga bintang untuk kumpulan kisah-kisah perjalanan tentang Indonesia. :)

  • Lalu Fatah
    2018-12-02 16:46

    Hari ini, saya kelar membaca Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh De Teens, lini Diva Press, ini adalah antologi 25 kisah perjalanan dari para traveler writer. Mereka antara lain: Dee An, Arabia, Dwi AR, M. Saipul, Dinar Okti Satitah, Huzer Apriansyah, Dina Y. Sulaeman, Bustomi Menggugat, Dian Onasis, Ary Amhir, Adis Takdos, Dody Johanjaya, Farchan Noor Rachman, Lina W. Sasmita, Meinilwita Yulia, Helene Jeane Koloway, Feni Kurniati, Prita Kusumaningsih, Katerina, Arini Tathagati, Lomar Dasika, Eaz Eryanda, Manik Priandani, Viola Malta Ramadhani, dan saya sendiri.Bukan tanpa alasan saya membuat ulasan ini. Pertama, saya ingin membagi kesan saya selama membaca buku ini. Kendati saya sudah pernah membaca naskahnya sebelum terbit, tapi sensasinya tentu saja berbeda. Membaca versi digital, masih berupa naskah di Microsoft Word, tanpa keindahan visual; dibandingkan membaca versi cetak dengan kaver hijau segar, kertas berwarna, font yang ramah di mata, serta foto yang penuh warna adalah sebuah kemewahan tersendiri, setidaknya bagi saya. Sebab, saya selama ini sering mendengar keluhan pembaca tentang buku-buku traveling yang jarang berwarna foto-fotonya. Saya pun memberi alasan, cetak warna harga lebih mahal. Jadi, memang elemen visual, yakni warna, acap dikorbankan.Selanjutnya baca di http://lafatah.wordpress.com/2013/12/...

  • M_agunngh
    2018-11-22 13:56

    Walo lebih kepada opini penulis akan orang - orang yang ditemui atau kebijakan ditempat, ya hal ini lebih banyak mirip dengan perjalanan ala backpack, murah, acak, dan baper-an. Tulisanya dibalut pake kertas berwarna dan tak jarang banyak foto destinasi yang berwarna juga...it's look great for backpack writers!!!

  • Karlina
    2018-12-08 17:54

    Sebuah kumpulan cerita perjalanan yang berusaha untuk tak hanya mendedahkan eksotisme.